UNSUR-UNSUR WIRAUSAHA -
1. Unsur Daya Pikir
Daya pikir, pengetahuan, kepandaian,
intelektual, atau kongnitif mencirikan tingkat penalaran, taraf
pemikiran yang dimiliki seseorang. Daya pikir adalah juga sumber dan
awal kelahiran kreasi dan temuan baru serta yang terpenting ujung tombak
kemajuan suatu umat. Dalam pandangan al-Baghdadi (1994), memang
pemikiranlah yang secara sunatullah mampu membangkitkan suatu umat sebab
potensi bangkit dimiliki manusia manapun secara universal.
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra’d: 11)
Menurut Al-Baghdadi, ayat ini bersifat
umum, yakni siapa saja dapat mencapai kemajuan dan kejayaan bila mereka
telah mengubah sebab-sebab kemundurannya. Mengubah keadaan biar bangkit
biasanya diawali dengan merumuskan konsepsi kebangkitan.
Islam sebagai agama yang sesuai dengan
fitrah manusia, memuaskan akal manusia (dengan dalil aqli dan naqli-nya)
dan menentramkan jiwa, menempatkan aktivitas pemikiran pada tataran
yang istimewa., terlebih dalam proses pembentukan keimanan dan keyakinan
seseorang. Imam Syafi’i dalam fikhul akbar, meyatakan,
“Ketahuilah, kewajiban pertama bagi
seorang mukallaf (muslim yang telah baligh sehingga diberi bebean
(taklif) hukum atas setiap perbuatannya)adalah berfikir dan mencari
dalil untuk ma’rifat kepada Allah dan yang dengan itu dapat sampai
kepada ma’rifat kepada hal-hal yang ghaib dari indra dan yang (ma’rifat
itu) merupadak suatu keharusan. Hal itu merupakan suatu kewajiban dalam
bidang ushuluddin (pokok-pokok agama) berdasarkan firman Allah,
“Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah” (Al An’am: 99)
“Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (Al Hasyr: 2)
“ Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi”. (Yunus: 101).
Saya katakan bahwa kewajiban yang
pertama berfikir karena sebagian besar dari ibadah adalah bergantung
pada niat, sedangkan yang namanya niat itu adalah suatu maksud yang
ditujukan untuk beribadah terhadap Zat yang disembah secara khusus.
Maksud dalam bentuk semacam ini tidak mungkin dicapai kecuali sesudah
tercapainya ma’rifat terhadap Zat yang ddisembah tersebut, sedangkan
ma’rifat itu sendiri tidak mungkin tercapai kecuali dengan jalan
berfikir dan pembuktian. Itulah sebabnya, mengapa saya mengatakan bahwa
berfikir itu merupakan kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf.
Pentingnya pemikiran juga tampak dari
kedudukannya sebagai asas dan suatu perbuatan. Abdurrahman (1998)
menyebutkan kaidah melakukan perbuatan (qaidah ‘amaliah) terdiri atas:
(1) mabhinun ‘ala al-fikri ‘dilandaskan atas pemikiran atau kesadaran’,
(2) min ajli ghayatin mu’ayyanah ‘untuk mencapai tujuan tertentu’, dan
(3) mabhinun ‘ala al-iman ‘dilandaskan pada keimanan’.
Semestinya, seorang muslim dalam
berfikir bersumber pada wahyu disertai dengan kecakapan dalam mengamati
keadaan di sekitarnya. Berkaitan dengan bisnis, Al Quran sebagai wahyu
Allah menunjukkan sejumlah hal penting. Diantaranya sebagai berikut.
a. Seruan pengadaan pangan berkualitas
Hai sekalian manusia, makanlah yang
halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaitan…” (Al Baqarah: 168).
b. Seruan pengadaan pakaian berkualitas
Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan…”(Al A’raaf: 26).
c. Anjuran pengadaan jasa transportasi
Dan ia memikul beban-bebanmu ke
suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan
kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu
benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dan (Dia Telah
menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan
(menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak
mengetahuinya. (An Nahl: 7-8).
d. Anjuran pengadaan jasa perdagangan
“…Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (Al Baqarah: 275).
e. Dorongan aktivitas pencerdasan umat
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu
pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap
golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan
mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya” (At Taubah: 122).
f. Dorongan pengadaan kedokteran dan pengobatan
“….dari perut lebah itu ke luar
minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat
yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang
memikirkan.” (An Nahl: 69).
g. Anjuran pengadaan industri peternakan dan perikanan
Makanlah dan gembalakanlah
binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. (Thaahaa: 54).
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu….” (Al Maa-idah: 96).
Tantangan yang dihadapi dalam
meningkatan daya nalar ialah bagaimana agar taraf pemikiran,
pengetahuan, dan pemahaman terus dipicu untuk maju dan berjaya.
2. Unsur Keterampilan
Mengandalkan berfikir saja belumlah
cukup untuk dapat mewujudkan satu karya nyata. Karya hanya terwujud jika
ada tindakan. Keterampilan merupakan tindakan raga untuk melakukan
suatu kerja. Dari hasil kerja itulah baru dapat diwujudkan suatu karya,
baik berupa produk ataupun jasa. Keterampilan dibutuhkan oleh siapa
saja, termasuk kalangan pebisnis profesional.
Islam memberikan perhatian besar bagi
pentingnya penguasaan keahlian atau keterampilan. Penguasaan yang serba
material ini juga merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh setiap
muslim dalam rangka melaksanakan tugasnya. Secara normatif, terdapat
banyak nash dalam Al Quran dan hadis yang menganjurkan untuk mempelajari
ilmu-ilmu pengetahuan umum dan keterampilan.
“Dan carilah pada apa yang Telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..” (Al Qashash: 77).
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang…” (Al Anfaal: 60).
“Hiasilah wanita-wanita kalian dengan ilmu tenun.” (HR. Al-Khatib dari Ibnu Abbas r.a.).
Juga firman Allah tentang Nabi Nuh a.s. dan Nabi Daud a.s.,
Dan buatlah bahtera itu dengan
pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan
Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan
ditenggelamkan. (Huud: 37)
Dan Telah kami ajarkan kepada Daud
membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu;
Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (Al Anbiyaa’: 80).
Dalam kitab al-Furusiah karya Ibnul
Qayyim, diriwayatkannya bahwa Rasulullah suatu ketika melihat dan
menunjuk busur-busur panah buatan orang-orang Arab. Beliau bersabda,
“dengan ini, dengan busur-busur, tombak, Allah SWT mengokohkan kekuasaan
di dalam negeri dan menolong kalian atas lawan-lawanmu.”
Pada kali yang lain, Rasulullah saw
pernah memerintahkan asy-Syifa binti Abdullah agar mengajarkan kepada
Hafshah Ummul Mu’minin tentang menulis pengobatan dengan doa dan jampi.
Beliau juga pernah menganjurkan kaum muslimah agar mempelajari ilmu
tenun, menulis, dan merawat orang sakit (pengobatan).
Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin,
membagi ilmu dalam dua kategori berdasarkan takaran kewajibannya.
Pertama, ilmu yang dikategorikan sebagai fardu “ain, yakni ilmu yang
wajib yang dipelajari setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk dalam
golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqafah Islam. Seperti pemikiran, ide dan
hukum-hukum Islam (fikih), bahasa Arab, sirah nabawiyyah, ulumul
qur’an, ulumul hadits, ushul fiqh, dan sebagainya. Kedua, ilmu yang
dikategorikan sebagai fardu kifayah, yaitu ilimu yang wajib dipelajari
oleh salah satu atau sebagain saja dari umat Islam. Ilmu yang termasuk
dalam golonbgan ini adalah ilmu kehidupan yang mencakup ilmu pengetahuan
dan teknologi serta keterampilan, seperti ilmu kimia, biologi fisika,
kedokteran, pertanian, teknik, dan sebagainya.
Dalam kerangka bisnis, Ilmu
kehidupan/keterampilan yang dibutuhkan adalah segala hal yang menunjang
keberhasilan bisnis. Antara lain, keterampilan dalam mengelola keuangan
(manjemen keuangan, keterampilan atau keahlian memasarkan (manajemen
pemasaran), dan sebagainya. Serta yang paling penting adalah penguasaan
keterampilan operasi/produksi dari lapangan bisnis yang digelutinya.
Dengan demikian, penguasaan keterampilan
tidak juga menjadi unsur penting wiraswasta, namun lebih dari itu, ia
menjadi suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagain dari umat
apabila ilmu-ilmu tersebut dinilai sangat dibutuhkan umat, seperti
rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan keterampilan
berproduksi lainnya.
3. Unsur Sikap Mental Maju
Daya pikir dan keterampilan belumlah
dapat menjamiin kesuksesan. Sukses hanya dapat diraih jika terjadi
sinergi antara pemikiran, keterampilan, dan sikap mental maju. Sikap
mental inilah yang dalam banyak hal justru menjadi penentu keberhasilan
seseorang.
Jika dicemati, banyak pengusaha besar
sukses ternyata hanya berlatar pendidikan sekolah menengah dan bahkan
ada juga yang hanya lulusan SD (sekolah dasar), namun mereka banyak yang
“SD” (Sinau Dhewe) alias belajar sendiri atau atodidak (soesarsono,
1996).
Bagi seorang muslim, sikap mental maju
pada hakikatnya merupakan konsekwensi dari tauhid dan buah dari
kemuslimannya dalam seluruh aktivitas pada pola berpikir (aqliyyah) dan
pola bersikapnya (nafsiyyah) yang dilandaskan pada aqidah Islam. Di
sini, tampak jelas bahwa sikap mental maju sesungguhnya adalah buah dari
pola sikap yang didorong secara produktif oleh pola pikir islami.
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku menjadi akalnya yang ia berpikir dengannya.” (Hadits Qudsi)
“Tidaklah beriman salah seorang di
antara kalian, sehingga dai menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa
(dinul Islam) yang kubawa.” (Hadits Arba’in-Nawawiyyah).
Berikut adalah sejumlah sikap mental maju yang didorong oleh pola pikir yang islami.
- Sigap, cekatan, langsung dikerjakan
“Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal
yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang
menyerah diri?” (Fushshilat: 33).
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…” (Al Baqarah: 148).
- Tanggap dan aktif
“Siapa saja yang bangun pagi hari
dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, orang tersebut tidak
berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan
urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani dari Abu Dzarr al Ghifari).
…Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan… (Al Maa-idah: 48).
- Rajin, Telaten, Tekun
“Tuntutlah ilmu dari aynan hingga liang lahat.” (Al-Hadits)
“Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 6).
- Kerja lebih
“….supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya …. “ (Al Mulk: 2)
Jujur dan Bertanggung Jawab
“Katakanlah yang benar walaupun pahit” (al-Hadits)
“Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah
pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas kepemimpinannya.
Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab atas
kepemimpinannya (rakyat). Seorang perempuan/ibu adalah pemimpin dalam
rumah tangga suaminya dan anak-anaknya; ia bertanggung jawab atas
kepemimpinanya. Seorang pelayan/hamba sahaya adalah pemimpin atas harta
tuannya dan ia bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Ketahuilah bahwa
setiap kamu adalah pemimpin dan masing-rnasing mempertanggungjawabkan
atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar).
Disiplin
“Wahai orang yang beriman,
jadikanlah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi
karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum
kerabatmu, jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya…. ” (An-Nissa : 135)
Teliti, Kerja Terbaik, Zero Mistake
“Sesungguhnya, Allah senang pada
hamba-Nya yang apabila mengerjakan sesuatu berusaha untuk melakukannya
dengan seindah dan sebaik mungkin. ” (al-Hadits)
Berjiwa Besar, Bersikap Wira
“Dan, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka…. “ (Ath-Thalaaq: 3)
“Mencari yang halal itu wajib bagi setiap muslim.” (HR Thabrani)
“Tiada seseorang makan makanan yang
lebih baik kecuali hasil usahanya sendiri. Nabiyullah Dawud a.s. juga
makan dari hasil tangannya sendiri.” (HR Bukhari)
“Sesungguhnya, yang paling baik dan
apa yang kamu makan adalah yang berasal dari kerjamu dan sesungguhnya
anak-anakmu adalah dari usahamu.” (al-Hadits)
“… Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya….” (Al-Mulk: 2.)
4. Unsur Intuisi
Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya
ada faktor lain di samping pemikiran, keterampilan, dan sikap mental
yang juga menentukan keberhasilan seseorang. Faktor itu tidak lain
adalah intuisi atau kewaspadaan (Soesarsono, 1996). Intuisi atau juga
dikenal sebagai feeling adalah sesuatu yang abstrak, sulit digambarkan,
namun acapkali menjadi kenyataan jika dirasakan serta diyakini benar dan
lalu diusahakan.
Dalam perspektif Islam, intuisi dapat
dinilai sebagai bagian lanjut dari pemikiran dan sikap mental maju yang
telah dimiliki seorang muslim. Seorang muslim memang dituntut untuk
mengaplikasikam pemahaman Islam dalam menjalankan kegiatan hidupnya.
Proses aplikasi ini dapat dilakukan diantaranya dengan cara menumbuhkan
kesadaran dan melatih kepekaan perasaan.
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atas dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.” (Ali lmran: 191)
“Siapa saja yang bangun pagi hari
dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, orang tersebut tidak
berguna apa-apa di sisi Allah. Dan, barang siapa yang tidak
memperhatikan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka. “ (HR Thabrani dari Abu Dzarr al-Ghifari)
Selain itu, intuisi juga dapat
ditumbuhkan dari keadrengan (ketekunan dan kesabaran untuk jangka waktu
yang panjang) dalam melakukan suatu pekerjaan disertai dengan selalu
mengingat bahwa bekerja adalah juga manifestasi dari rasa syukur.
“… Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepadaAllah,).. .. (Saba’: 13).
Begitu pula dengan memahami bahwa
kegiatan bisnis apa pun tidaklah boleh melalaikan seorang muslim dari
tugas kehidupan lainnya, seperti berzikir dan berdakwah.
“Laki-laki yang tidak dilalaikan
oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah,
dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat, Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
guncang. ” (An-Nuur: 37).
Gabungan keempat unsur itu (pemikiran,
keterampilan, sikap mental maju, dan intuisi) yang bersinergi secara
harmonis akan mampu membawa keberhasilan. Tantangannya kemudian adalah
terletak pada bagaimana upaya untuk mengembangkan keempat unsur tadi
agar dapat bersinergi secara harmonis.
HIKMAH
Dari penjelasan diatas bisa diambil
kesimpulan bahwa dalam wirausaha atau bisnis harus ada empat unsur Unsur
daya pikir (kognitif), Unsur keterampilan (psokomotorik), Unsur sikap
mental (afektif), dan Unsur kewaspdaan atau intuisi. Unsur daya pikir
mencangkup pengetahuan, kepandaian, intelektual, atau kongnitif
mencirikan tingkat penalaran, taraf pemikiran yang dimiliki seseorang.
Daya pikir adalah juga sumber dan awal kelahiran kreasi dan temuan baru
serta yang terpenting ujung tombak kemajuan suatu umat. Keterampilan
merupakan tindakan raga untuk melakukan suatu kerja. Dari hasil kerja
itulah baru dapat diwujudkan suatu karya, baik berupa produk ataupun
jasa. Sukses hanya dapat diraih jika terjadi sinergi antara pemikiran,
keterampilan, dan sikap mental maju. Sikap mental inilah yang dalam
banyak hal justru menjadi penentu keberhasilan seseorang. Intuisi atau
juga dikenal sebagai feeling adalah sesuatu yang abstrak, sulit
digambarkan, namun acapkali menjadi kenyataan jika dirasakan serta
diyakini benar dan lalu diusahakan. Dalam perspektif Islam, intuisi
dapat dinilai sebagai bagian lanjut dari pemikiran dan sikap mental maju
yang telah dimiliki seorang muslim.